Jumat, 14 Agustus 2026

'Gonggongan' Bertuan Publik: Bedah Redaksi Debut POSMETRO MEDAN

Ditulis Faisal Matondang*
Faisal Matondang - Jumat, 14 Agustus 2026 16:32 WIB
'Gonggongan' Bertuan Publik: Bedah Redaksi Debut POSMETRO MEDAN
IST
Faisal Matondang

Mereka tipikal umat yang merawat kebebasan berekspresi.

Kisah buah apel jatuh dari pohon ke tanah, misalnya. Bagi banyak orang, peristiwa itu adalah bukti gravitasi. Atau, buntut aksi jolok maling atau si pemilik pohon. Angle seniman tidak begitu.

Baca Juga:

Apel merah mengkilap itu mengantar memori pada sepotong bibir yang sehat merona. Bibir gadis dari keluarga pemilik pohon apel itu.

Siapa nyana buah segar yang jatuh diasosiasikan dengan kelembutan kecupan seorang gadis.

Baca Juga:

Itulah cukilan efek jurnalisme berolah rasa seni menghasilkan reportase peristiwa biasa menjadi tampak luar biasa. Pakar komunikasi menyebut genre ini sebagai jurnalisme sastra.

Formula semacam itulah yang diadopsi POSMETRO MEDAN era awal. Menolak berita rilis yang hanya menguntungkan kubu pembuat rilis membuat redaksinya menantang status quo produk Pers Sumatera Utara masa itu.

Dengan arah pemberitaan 'menerangi' sisi gelap kehidupan sosial, POSMETRO MEDAN tampil 'di luar kotak'. Menabrak langgam banyak wartawan, kehadirannya konsisten 'menggonggong' pelaku kriminalitas. Juga praktik penyimpangan hukum.

Tuan media ini adalah publik 'akar rumput'. Itu yang membuat POSMETRO MEDAN terbit pada edisi Minggu 16 Desember 2001 meski itu 1 Syawal 1422 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri.

Lantas, apa dampak formula itu? Seperti yang sudah Anda ketahui.

Tiras media yang lahir dari rahim jurnalisme 'sex and crime' ini melesat bak meteor. Nyaris menembus 100 ribu eksemplar. Terbesar dalam sejarah oplah koran seantero Sumatera.

Editor
: Faliruddin Lubis
Tags
beritaTerkait
Sambut HUT Perak, Posmetro Medan Bikin Rakerda
Diduga Lecehkan Profesi Jurnalis di Facebook, Seorang Warga Dilaporkan ke Polres Binjai
Shanaz Khairuz Putri Lauzia, Dari Dunia Jurnalistik Menuju Politik dan Bisnis
Jude Bellingham Banjir Pujian usai Jawab Pertanyaan Jurnalis Disabilitas Asal Venezuela
Rico Waas : Kota tak Bisa Hanya Jadi Konsumen, Saat Bangun Ketahanan Pangan
Seniman Teater Hafiz Taadi Gelar Panggung di Aliran Sungai Deli
komentar
beritaTerbaru