Minggu, 05 April 2026

Isak Tangis Warnai Pelepasan Guru Relawan di Sekumur: "Jangan Pergi, Bu Guru..."

Evi Tanjung - Selasa, 30 Desember 2025 19:35 WIB
Isak Tangis Warnai Pelepasan Guru Relawan di Sekumur: "Jangan Pergi, Bu Guru..."
Ist
" Jangan pergi, Bu guru ...,"

POSMETRO MEDAN,Aceh Tamiang – Desa Sekumur, sebuah wilayah yang masih berjuang pulih dari terjangan banjir bandang di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, mendadak riuh oleh isak tangis pada Selasa (30/12/2025). Bukan karena air bah yang kembali datang, melainkan karena perpisahan emosional antara puluhan anak-anak penyintas dengan para guru relawan.

Baca Juga:

​Para pengajar muda dari kolaborasi Pandawa Kayak dan Medan Lawyers FC tersebut harus berpamitan setelah menuntaskan misi kemanusiaan mereka selama satu pekan terakhir. Sejak Kamis (25/12/2025), kehadiran mereka menjadi oase di tengah trauma bencana yang melanda desa tersebut

​Pulihkan Trauma Lewat Pendidikan

Baca Juga:

​Selama tujuh hari, para relawan tidak hanya memberikan pelajaran formal seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Matematika, tetapi juga fokus pada program trauma healing.

Agum, Ketua Tim Relawan, menjelaskan bahwa sistem rotasi mingguan ini diterapkan agar bantuan tenaga pendidik tetap berkelanjutan tanpa memutus semangat belajar anak-anak.

​"Guru-guru yang kami rekrut memiliki keahlian khusus, mulai dari akademisi hingga guru khusus bermain.Mereka bertugas memulihkan psikis anak-anak agar tidak larut dalam duka pascabencana," ujar Agum di sela-sela momen perpisahan.

​Momen Perpisahan yang Mengharukan

​Meski hanya sepekan, ikatan emosional yang terbangun tampak begitu kuat.

Pantauan di lokasi menunjukkan anak-anak Desa Sekumur memeluk erat para relawan, seolah enggan melepaskan sosok yang telah mengembalikan keceriaan mereka.

.

​"Jangan pergi, Bu Guru," teriak salah satu bocah sembari terisak di pelukan relawan.

Suasana kian haru saat para orang tua korban banjir ikut meneteskan air mata, menyaksikan betapa besarnya dampak kehadiran para pemuda tersebut bagi mentalitas anak-anak mereka.

​Tongkat Estafet Pengabdian

​Walau tim pertama harus kembali ke daerah asal, misi kemanusiaan di Desa Sekumur dipastikan tidak berhenti. Tim relawan baru telah disiapkan untuk melanjutkan tongkat estafet pendampingan psikososial dan pendidikan.

​Kepergian tim pertama ini meninggalkan memori mendalam sekaligus harapan baru. Bagi warga Sekumur, para guru relawan bukan sekadar pengajar, melainkan simbol kepedulian yang membantu mereka bangkit dari reruntuhan duka banjir bandang.( Red)

Tags
beritaTerkait
Nasib Mohammad Arifin yang Kini Melawan Penyakit dan Beban Hidup
Dispora Medan dan Camat Medan Marelan Buka Turnamen Badminton PB Mitra Sporty
Prabowo Kunjungi Aceh, Salat Id Bersama Warga Aceh Tamiang
Rico Waas Minta Kenaikan Cabai Merah Segera Dikendalikan
Rumah Zakat Salurkan Fidyah  di Desa Batu Hula, Tapanuli Selatan
MPW Pemuda Pancasila Sumut Salurkan 500 Paket Sembako untuk Korban Bencana Aceh Tamiang
komentar
beritaTerbaru