Diduga Mencuri 11 Alat Musik Gereja, Sopir Taksi Online di Medan 'Gol'
Sopir taksi online di Medan berinisial JST (21) mencuri 11 alat musik gereja yang totalnya mencapai Rp61 juta.
Kriminal 3 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Jakarta -- Dunia kuliner tidak hanya dibentuk oleh kreativitas chef atau perkembangan teknologi, tetapi juga oleh sejumlah bahan pangan yang tak kalah penting. Berikut kisah di mana makanan mampu mengubah dunia.
Kehadiran beberapa bahan makanan memicu lahirnya jalur perdagangan baru, mengubah struktur ekonomi, hingga memengaruhi budaya kuliner.
Dari bahan yang mampu mengawetkan makanan sejak ribuan tahun lalu hingga komoditas yang memicu kelaparan besar dan mengubah pola konsumsi global, kelima makanan ini meninggalkan jejak dalam sejarah kuliner.
Dilansir dari Fast Food Club (24/11/2025), berikut lima tempat makan yang berperan penting dalam sejarah kuliner.
1. Garam
Sejak ribuan tahun lalu, garam tidak hanya menjadi bumbu dapur, tetapi juga fondasi penting bagi peradaban kuliner. Jauh sebelum teknologi pendinginan ditemukan, garam berperan sebagai pengawet utama yang menjaga makanan tetap aman dikonsumsi.
Nilainya begitu tinggi sehingga menjadi komoditas dagang yang membentuk kota, jalur perdagangan, hingga kekuasaan politik. Bahkan, istilah "gaji" berasal dari kata Latin salarium, karena tentara Romawi pada masa tertentu menerima bayaran dalam bentuk garam.
Bukti awal pemanfaatannya tercatat pada 6050 SM, ketika berbagai peradaban menggunakannya untuk kebutuhan pangan, ritual, dan perdagangan. Peradaban Mesir, Mesopotamia, hingga China mengembangkan teknik produksi garam sendiri, membuktikan betapa krusialnya bahan makanan ini bagi kehidupan manusia sepanjang sejarah.
2. Kentang
Kentang yang kini menjadi hidangan umum di seluruh dunia sebenarnya memiliki perjalanan panjang dari tanah asalnya di Pegunungan Andes. Masyarakat Inca telah membudidayakannya sekitar 10.000 tahun lalu dan mengandalkannya sebagai sumber pangan utama.
Setelah bangsa Spanyol membawanya ke Eropa pada abad ke-16, kentang sempat diragukan karena berasal dari keluarga tanaman beracun. Namun kemampuannya tumbuh di tanah kering dan kandungan nutrisinya yang tinggi menjadikannya penyokong pertumbuhan populasi dan revolusi industri.
Ketergantungan berlebih di Irlandia bahkan memicu kelaparan besar pada 1840-an saat penyakit tanaman menghancurkan panen kentang. Meski demikian, kentang kini menjadi salah satu tanaman pangan paling berpengaruh dalam sejarah modern.
3. Gula
Sama seperti garam, gula menyimpan sejarah panjang yang tidak selalu manis. Tebu pertama kali didomestikasi di Papua Nugini sekitar 8000 SM sebelum menyebar ke India dan China. Di India, teknik pemurnian gula menjadi kristal berkembang sekitar abad ke-4, menjadikan gula komoditas berharga yang mudah diperdagangkan.
Melalui jalur perdagangan Arab dan Mediterania, gula akhirnya masuk ke Eropa dan diperlakukan layaknya rempah mahal. Ketika Christopher Columbus membawa tebu ke Karibia pada 1493, industri perkebunan tebu raksasa pun lahir, tetapi bergantung pada kerja paksa jutaan orang Afrika yang diperbudak.
Pada abad ke-17 dan ke-18, gula berubah menjadi 'emas putih' yang memperkaya kekuatan kolonial. Jejaknya kini tampak dalam pola konsumsi global dan dampaknya terhadap kesehatan.
4. Makanan ultra-proses
Perkembangan makanan ultra-proses atau makanan olahan ternyata dipengaruhi kebutuhan akan pangan praktis sejak abad ke-19, ketika bahan tambahan sintetis mulai digunakan. Pada awal abad ke-20, penemuan minyak terhidrogenasi mengubah cara industri pangan menghasilkan lemak padat untuk margarin.
Inovasi besar terjadi saat Perang Dunia II, ketika pasukan militer membutuhkan makanan tahan lama dan mudah dibawa. Setelah perang, produk kemasan dan makanan instan memasuki supermarket dan toko, sehingga menjadi bagian dari pola makan modern.
Pada 1980-an, istilah 'ultra-processed' mulai muncul. Banyak kajian dan studi ilmiah yang kemudian menunjukkan bahwa konsumsi tinggi makanan ultra-proses dapat memengaruhi kesehatan secara serius.
5. Alpukat
Alpukat sudah dikonsumsi masyarakat Mesoamerika selama sekitar 10.000 tahun, dengan budidaya pertama tercatat sekitar 5.000 tahun lalu. Buah ini mulai dikenal dunia setelah penjelajah Spanyol menemukannya pada abad ke-16 dan memperkenalkannya ke Eropa.
Namanya berasal dari kata Aztec 'ahuacatl'. Pada abad ke-20, teknik hortikultura modern seperti pencangkokan membuat alpukat menjadi komoditas global, terutama di Amerika Serikat.
Namun popularitasnya membawa sisi gelap. Di Meksiko yang dikenal sebagai produsen terbesar alpukat, tingginya permintaan internasional menjadikan buah ini sebagai buah berharga yang menarik perhatian kelompok kriminal. Keamanan kebun alpukat bahkan kerap dijaga ketat untuk mencegah pencurian dan penguasaan oleh kartel.
(wan/dtc/bbs)
Sopir taksi online di Medan berinisial JST (21) mencuri 11 alat musik gereja yang totalnya mencapai Rp61 juta.
Kriminal 3 jam lalu
Sinergi Polsek Bosar Maligas Dan Jahtanras Polres Simalungun Berbuah Manis Pencuri Ternak Lembu Yang Beraksi Dua Kali Berhasil Diringkus.
Peristiwa 4 jam lalu
LIPPSU Pemberitaan Ketua KORMI Sumut Dipanggil Polda Hoaks!
Sumut 4 jam lalu
260 Siswa di Berastagi Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Orang Tua Minta Program Dihentikan Sementara.
Peristiwa 5 jam lalu
Puan Maharani Berjanji tak Ada Lagi Joget di DPR RI.
Inter-Nasional 5 jam lalu
Perkuat Sistem Merit, Pemkab Karo Ekspose Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat.
Berita 6 jam lalu
Wakil Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Haul ke25 Allahuyarham Syekh H Mustafa BS Rokan.
Sumut 6 jam lalu
Posmetro Medan, Medan Jajaran Kecamatan Medan Baru bersama Koramil 05 Medan Baru dan Polsek Medan Baru membagikan Bendera Merah Putih kepad
Medan 7 jam lalu
BANPT Tetapkan UDA Tak Memenuhi Syarat Peringkat Akreditasi, Ini Pesan LLDikti Wilayah I ke Mahasiswa.
Medan 7 jam lalu
Posmetro Medan, Karo Pelaksanaan vaksinasi bagi siswa SD Negeri 047164 Seberaya, Kabupaten Karo, menuai tanda tanya. Pasalnya, Dinas Pendi
Peristiwa 7 jam lalu