"Kami awasi pelabuhan tikus, jalur udara, hingga perbatasan yang rawan jadi pintu keluar korban. Kolaborasi lintas sektor itu mutlak," jelasnya. Hasil penyelidikan menunjukkan, Malaysia dan Kamboja masih menjadi tujuan utama korban asal Sumut.
Baca Juga:

Kini modus semakin canggih, mulai dari iming-iming kerja di pabrik, penipuan online, hingga scamming dan judi daring yang dikelola jaringan lintas negara.
Baca Juga:
"Tantangan kami bukan hanya menangkap, tapi membuktikan. Banyak pelaku dan korban berada di luar negeri dan berkomunikasi lewat media sosial yang sulit dilacak," ungkapnya.
Polda Sumut pun terus memperkuat kerja sama dengan KBRI dan aparat hukum negara tujuan untuk memulangkan korban sekaligus menjerat otak di balik layar sindikat ini.
AKBP Parulian mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya janji pekerjaan tanpa legalitas jelas, terutama yang ditawarkan melalui media sosial.
Editor
: Salamuddin Tandang
Tags
beritaTerkait
komentar