POSMETRO MEDAN, Jakarta -- Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang berkelakar soal Lailatul Qadar menuai perhatian publik.
Candaan tersebut mendapat tanggapan langsung dari cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi.
Seperti diketahui, Bahlil sempat menyebut bahwa bagi Partai Golkar, "Lailatul Qadar" diibaratkan sebagai momen ketika jumlah kursi partai bertambah.
Baca Juga:
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan di media sosial.
Menanggapi hal itu, Gus Hilmi Firdausi mengingatkan agar pejabat publik lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, terlebih jika menyangkut hal yang dianggap sakral dalam ajaran Islam.
Baca Juga:
"Kemuliaan Lailatul Qodar tidak pantas dijadikan bahan bercanda Pak Menteri," ujar Gus Hilmi, Sabtu (7/3/2026).
Ia kemudian meminta agar pejabat publik, tidak terkecuali Bahlil, agar tetap berhati-hati dalam memilih materi candaan.
"Mohon sebagai pejabat publik lebih hati-hati dalam berucap," imbuhnya.
Gus Hilmi bilang, Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat dimuliakan dalam Islam, sehingga tidak selayaknya dijadikan bahan kelakar dalam konteks politik.
"Syukur-syukur anda mau klarifikasi dan minta maaf," kuncinya.
Pernyataan Bahlil sendiri menuai beragam reaksi dari publik. Sebagian menganggapnya hanya sebagai candaan politik, namun tidak sedikit pula yang menilai ucapan tersebut kurang tepat karena menyentuh hal yang bersifat religius.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Bahlil Lahadalia terkait kritik yang disampaikan Gus Hilmi Firdausi tersebut.
Momentum Ramadan dimanfaatkan Partai Golkar untuk menggelar peringatan Nuzulul Quran yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Partai GolkarBahlil Lahadalia sempat melontarkan kelakar yang mengundang senyum para kader yang hadir.
Di hadapan para undangan, Bahlil mengaitkan makna Lailatul Qadar dengan dinamika politik partainya.
Ia menyebut, bagi Golkar, "malam kemuliaan" itu bisa diibaratkan sebagai bertambahnya jumlah kursi di parlemen.
Dalam sambutannya di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/3/2026), Bahlil terlebih dahulu menyinggung fase akhir Ramadan yang diyakini umat Islam sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.
Ia mengibaratkan perjalanan Ramadan seperti siklus waktu dalam sehari yang mulai bergerak menuju penghujung.
"Ini sudah menyongsong Lailatul Qadar ya, karena ini mataharinya sudah mulai turun-turun ini. Ibarat kalau perjalanan manusia itu sekarang kita sudah di jam 12, besok sudah mulai turun ke jam 1," kata Bahlil.
Bahlil kemudian menuturkan bahwa Lailatul Qadar diyakini turun kepada orang-orang yang mendapatkan keberkahan.
Namun, ia menyelipkan candaan khas politik ketika mengaitkannya dengan kondisi Partai Golkar.
"Ini insya Allah kalau orang yang selalu diberikan berkah, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun. Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah," tukasnya.
Selain berkelakar, Bahlil juga menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran tidak hanya sebatas mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, momen tersebut seharusnya menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Al-Quran sekaligus menjadikannya pedoman dalam kehidupan, termasuk dalam menjalankan amanah kekuasaan.
Bahlil menekankan bahwa kader Golkar yang berada di posisi eksekutif maupun legislatif tidak semata-mata mengejar kekuasaan.
Ia mengingatkan bahwa jabatan yang diperoleh merupakan amanah yang harus memberi manfaat bagi masyarakat.
"Jadi kalau kader Partai Golkar di eksekutif maupun legislatif, ini tidak hanya sekadar kekuasaan yang kita rebut, tapi kekuasaan amanah itu harus menjadi rahmatan lil 'alamin," ungkapnya.
"Karena setiap kekuasaan itu insya Allah akan menjadi instrumen pengabdian dan kita akan mempertanggungjawabkan nanti di Yaumul Mahsyar ketika kita kembali kepada Sang Khalik, akan ditanyakan seberapa besar manfaat dari apa yang telah engkau dapatkan ketika diberikan amanah untuk menjadi pemimpin di bangsa ini," sambung dia.
Dalam bagian lain pidatonya, Bahlil juga menyinggung pesan Al-Quran terkait keadilan ekonomi. Ia menyebut kitab suci tersebut telah menegaskan bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu saja.
Menurutnya, distribusi ekonomi yang adil merupakan prinsip yang juga sejalan dengan konstitusi Indonesia.
"Jadi memang ketika ada gap ekonomi yang tinggi, ini juga Al-Qur'an mengisyaratkan, memerintahkan bahwa sesungguhnya monopoli ekonomi itu tidak boleh terjadi," jelasnya.
"Jadi tidak hanya di konstitusi, tidak hanya tujuan dalam berbangsa dan bernegara, tidak hanya ada di Pancasila, tapi ternyata di Al-Qur'an juga memerintahkan bahwa kekayaan itu tidak boleh dimiliki oleh sekelompok orang, harus berbagi rata, dan itu menjadi penegasan dan sejalan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 45," tandasnya. (fajar)
Tags
beritaTerkait
komentar