"Masyarakat cuma jadi korban politik. Korban buaian angin sorga. Kalau saya menang, akan begini dan begitu. Setelah menang, seakan tak peduli. Faktanya, tiada pembangunan. Padahal, rakyat bayar pajak," ujar Bones Sihombing.
Baca Juga:
Dijelaskan, khusus ruas jalan provinsi, akses hancur mencapai 18 Kilometer. Sedangkan ruas jalan kabupaten dan desa hampir semua berantakan.
"Bila tamu atau sanak famili dari luar daerah berkunjung, pasti bersungut-sungut. Enggak disangka sedemikian lantak. Makanya, tidak ada mobil angkot masuk kecuali milik teman sekampung."
Baca Juga:
Dia merinci, sebagian permukaan jalan tinggal tanah dan lainnya berupa batu padas. Tetapi, namanya tetap jalan provinsi. Bentuknya juga beraneka hingga berlobang dan curam.
"Petani di daerah ini gigih. Lahan dikelola produktif. Sekarang lagi panen jagung. Nanti berganti kakao, cabe, durian dan lainnya," kata Bones Sihombing.
Dampak kerusakan jalan, harga jual hasil tani minimal lebih rendah Rp200 per kilo dibanding di jalan bagus. Berapa banyak kerugian diderita petani?
Tags
beritaTerkait
komentar