Rabu, 13 Mei 2026

Tembakau, Kekuasaan, dan Luka Lama Medan: Warisan yang Dipadamkan

Faliruddin Lubis - Kamis, 11 Desember 2025 01:37 WIB
Tembakau, Kekuasaan, dan Luka Lama Medan: Warisan yang Dipadamkan
IST
Peta dan grafis

Titik balik terbesar datang melalui Agrarische Wet 1870, sebuah undang-undang agraria yang memungkinkan investor swasta menyewa tanah Sultan hingga 75 tahun. Sistem ini menggantikan cultuurstelsel dan menjadi mesin baru liberalisasi perkebunan Hindia Belanda.

Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Deli Maatschappij, Senembah Maatschappij, hingga kongsi Inggris Harrison & Crosfield mulai menguasai roda ekonomi Sumatra Timur. Memasuki abad ke-20, tembakau bukan lagi satu-satunya komoditas utama. Karet, kopi, dan kelapa sawit mulai ditanam. Beberapa tonggak penting di antaranya:

Baca Juga:

1902: Kebun karet pertama di Serdang oleh Harrison & Crosfield

1909–1914: Masuknya perusahaan Amerika, termasuk United States Rubber Company dan Goodyear

Baca Juga:

1916: Jumlah perusahaan perkebunan mencapai 320 perusahaan

Perkembangan pesat ini menjadikan Medan—ibukota Karesidenan sejak 1887—kota kolonial paling kosmopolit di luar Jawa. Jalur kereta api dibangun, pelabuhan Belawan diperluas, dan ribuan tenaga kerja kontrak (koeli) menghidupkan pusat-pusat ekonomi perkebunan.

Namun, di balik gedung-gedung megah dan laba besar para planter Eropa, kehidupan para koeli berlangsung keras: sistem kerja berikat, pemukiman barak, pengawasan ketat mandor, hingga kekerasan yang tercatat dalam arsip kolonial. Luka-luka sosial ini menjadi bagian dari sejarah kelam perkebunan Sumatra Timur.

Jejak Panjang yang Mengubah Sumatera

Sejarah perkebunan di Sumatera Timur adalah kisah tentang modal, kolonialisme, dan perjumpaan budaya di kawasan strategis jalur Selat Malaka. Para planter Eropa, saudagar Melayu, serta migran Cina, India, Siam, dan Jawa membentuk lanskap sosial baru yang kemudian menjadi fondasi ekonomi modern Sumatera Utara.

Ekspansi perkebunan lintas komoditas sejak tembakau pertama ditanam pada 1863 hingga puncak kejayaan awal abad ke-20 tumbuh seiring kemajuan teknologi kapal uap, dibukanya Terusan Suez, dan kebijakan agraria Belanda.

Tags
beritaTerkait
Panitia PMBM MTsN 2 Madina Pastikan Seleksi Transparan dan Sesuai Regulasi
Profil Kombes Firman Darmansyah, Arsitek Tilang Canggih yang Kini Mengatur Denyut Jalanan Ibu Kota
Airin Rico Waas : Cetak Talenta Digital Untuk Indonesia Emas 2045
Diduga Langgar Juknis dan Tak Sesuai Kontrak, Proyek Rabat Beton 200 Meter CV NAS di PTPN IV Ajamu Mangkrak
Terbakar...Bus ALS Semarang-Medan Tabrakan dengan Truk Tangki BBM di Sumsel, 16 Orang Tewas
KPK dan Kanwil Kemenag Sumut Perkuat Pendidikan Antikorupsi melalui Safari Keagamaan
komentar
beritaTerbaru