Minggu, 29 Maret 2026

Tembakau, Kekuasaan, dan Luka Lama Medan: Warisan yang Dipadamkan

Faliruddin Lubis - Kamis, 11 Desember 2025 01:37 WIB
Tembakau, Kekuasaan, dan Luka Lama Medan: Warisan yang Dipadamkan
IST
Peta dan grafis

POSMETRO MEDAN,Medan- Ketika kapal-kapal uap Eropa mulai melintasi Selat Malaka pada paruh kedua abad ke-19, sebuah revolusi diam-diam tengah menyapu pesisir timur Sumatera. Wilayah yang dikenal sebagai Sumatera Timur—dibatasi Aceh di barat laut, Bengkalis di tenggara, dan Selat Malaka di timur—perlahan tumbuh menjadi salah satu pusat perkebunan paling dinamis di Asia Tenggara.

Transformasi besar ini dipicu oleh ambisi kolonial, kemajuan teknologi, serta jaringan kekuasaan lokal yang kemudian diikat melalui perjanjian politik bernama Tractaat Siak.

Awal Kehadiran Perkebunan di Sumatera Timur

Baca Juga:

Sebelum pengusaha Eropa menjejakkan kaki, masyarakat Melayu, Karo, dan Simalungun telah lama berdagang lada, rotan, pinang, hingga getah perca—komoditas yang rutin mereka bawa ke Penang dan Malaka.

Namun potensi agraris wilayah ini baru benar-benar masuk peta perdagangan global setelah Belanda menandatangani Tractaat Siak pada 1 Februari 1858. Perjanjian ini menempatkan Deli, Serdang, dan Langkat di bawah perlindungan kolonial, membuka jalan bagi masuknya modal Eropa.

Baca Juga:

Perjanjian tersebut menjadi dasar pembentukan Karesidenan Sumatra Timur pada 15 Mei 1873. Ketika ekonomi mulai berkembang pesat, statusnya bahkan ditingkatkan menjadi Provinsi Sumatera Timur pada awal abad ke-20.

Tokoh yang Mengubah Tanah Deli

Ledakan industri tembakau di Deli tidak bisa dilepaskan dari dua tokoh: Jacobus Nienhuys, pengusaha Belanda asal Jawa, dan Said bin Abdullah bin Umar Bilfagih, pedagang keturunan Arab-Surabaya.

Said, yang memiliki hubungan keluarga dengan Sultan Deli karena menikahi adik sang Sultan, menjadi perantara penting yang mempertemukan Nienhuys dengan istana dan membuka akses konsesi lahan ribuan hektare.

Pada 7 Juli 1863, kapal Josephine yang membawa rombongan pengusaha tembakau dari Jawa berlabuh di muara Sungai Deli—titik awal perubahan besar Sumatra Timur.

Tahun pertama, Nienhuys gagal. Namun pada 1869, ia bangkit kembali. Tembakau hasil tanamannya dikirim ke Rotterdam dan langsung meledak di bursa lelang Eropa sebagai bahan pembungkus cerutu kelas premium: Tembakau Deli.

Untuk memenuhi permintaan pasar, ribuan pekerja kontrak didatangkan dari berbagai wilayah:

Cina: Penang, Singapura, Swatow, Amoy, Kanton

India: Koromandel

Siam

Jawa: Bagelen

Pada 1 November 1869, Nienhuys mendirikan perusahaan raksasa Deli Maatschappij, yang kemudian menjadi penguasa perkebunantembakau terbesar di Asia. Hanya satu dekade berselang, puluhan perusahaan baru membentang dari Sungai Wampu hingga Sungai Ular. Pada 1884, jumlah perkebunantembakau melonjak menjadi 76 perusahaan, tersebar hingga ke Padang, Sumatera Barat.

Kebijakan Agraria dan Gelombang Liberalisasi

Titik balik terbesar datang melalui Agrarische Wet 1870, sebuah undang-undang agraria yang memungkinkan investor swasta menyewa tanah Sultan hingga 75 tahun. Sistem ini menggantikan cultuurstelsel dan menjadi mesin baru liberalisasi perkebunan Hindia Belanda.

Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Deli Maatschappij, Senembah Maatschappij, hingga kongsi Inggris Harrison & Crosfield mulai menguasai roda ekonomi Sumatra Timur. Memasuki abad ke-20, tembakau bukan lagi satu-satunya komoditas utama. Karet, kopi, dan kelapa sawit mulai ditanam. Beberapa tonggak penting di antaranya:

1902: Kebun karet pertama di Serdang oleh Harrison & Crosfield

1909–1914: Masuknya perusahaan Amerika, termasuk United States Rubber Company dan Goodyear

1916: Jumlah perusahaan perkebunan mencapai 320 perusahaan

Perkembangan pesat ini menjadikan Medan—ibukota Karesidenan sejak 1887—kota kolonial paling kosmopolit di luar Jawa. Jalur kereta api dibangun, pelabuhan Belawan diperluas, dan ribuan tenaga kerja kontrak (koeli) menghidupkan pusat-pusat ekonomi perkebunan.

Namun, di balik gedung-gedung megah dan laba besar para planter Eropa, kehidupan para koeli berlangsung keras: sistem kerja berikat, pemukiman barak, pengawasan ketat mandor, hingga kekerasan yang tercatat dalam arsip kolonial. Luka-luka sosial ini menjadi bagian dari sejarah kelam perkebunan Sumatra Timur.

Jejak Panjang yang Mengubah Sumatera

Sejarah perkebunan di Sumatera Timur adalah kisah tentang modal, kolonialisme, dan perjumpaan budaya di kawasan strategis jalur Selat Malaka. Para planter Eropa, saudagar Melayu, serta migran Cina, India, Siam, dan Jawa membentuk lanskap sosial baru yang kemudian menjadi fondasi ekonomi modern Sumatera Utara.

Ekspansi perkebunan lintas komoditas sejak tembakau pertama ditanam pada 1863 hingga puncak kejayaan awal abad ke-20 tumbuh seiring kemajuan teknologi kapal uap, dibukanya Terusan Suez, dan kebijakan agraria Belanda.

Warisan itu menjadikan Sumatera Timur salah satu pusat agroindustri terpenting di Indonesia.

Namun hari ini, kejayaan agraris yang pernah membesarkan Medan perlahan padam, tergeser oleh pembangunan kota dan perubahan ekonomi modern. Agroindustri tembakau yang dulu mendunia kini tinggal jejak sejarah—warisan besar yang meredup seiring perubahan zaman.(520/LIT/ERNI)

Tags
beritaTerkait
Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan: Operasi Ketupat Toba 2026 Berjalan Sukses
Dirlantantas Polda Sumut Kombes Pol Firman Darmansyah Pastikan Jalur Wisata Aman
Wali Kota Medan Apresiasi Program Mudik Gratis Presisi 2026 Bersama Poldasu
Oknum Bank Mandiri Diduga Terseret Skandal Kasus Hilangnya Dana Nasabah Rp123 Miliar
Polda Sumut Tetapkan Mantan Kepala Kas Tersangka, Terdekteksi Kabur Ke Australia
Kapolda Sumut Whisnu Hermawan Lepas 4 Bus Mudik Gratis dari Terminal Amplas, Ini Momen Foto-fotonya
komentar
beritaTerbaru