Sapma PP Sumut Dilantik, Musa Rajekshah Sebut Generasi Muda Harus Ingat Sejarah
POSMETRO MEDANPelantikan pengurus Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Sumatera Utara, yang dilaksanakan dalam acara Ap
Sumut 10 menit lalu
POSMETRO MEDAN–Pematang Siantar, Sidamanik, Pematang Siantar, pernah menjadi pusat kejayaan agraria. Dulu, deru lokomotif mengangkut batang-batang tebu menuju pabrik, sawah berderet hijau, dan buruh bekerja di bawah bendera kolonialisme.
Tebu kala itu bukan sekadar tanaman, tetapi komoditas emas yang menempatkan Nusantara dalam peta perdagangan gula dunia.
Kini, di lereng dingin kebun teh Sidamanik, gema sejarah itu kembali bergaung—bukan dari mesin tebu, melainkan dari suara protes warga. Rencana konversi kebun teh menjadi perkebunan sawit memicu pertarungan baru: antara memori kolektif, identitas agraria, dan hasrat keuntungan jangka pendek.
Baca Juga:
Dari Gula ke Teh, Kini Sawit
Sejarah panjang agraria di Sumatera Utara mencatat perputaran komoditas: dari tebu yang diatur UU Gula 1870 dan mencapai puncak kejayaan 1930-an, runtuh akibat depresi ekonomi dan perang dunia, hingga nasionalisasi pabrik gula pada 1957 dan program TRI 1975. Sidamanik kemudian dikenal sebagai kawasan teh, warisan kolonial yang masih bertahan.
Baca Juga:
Namun, sejak 2022, wacana konversi kebun teh ke sawit mencuat. Kunjungan DPRD Sumut ke lokasi hingga pernyataan penolakan pada 2025 memperlihatkan bahwa isu ini bukan sekadar persoalan teknis pertanian, melainkan arena politik komoditas.
Bahasa Politik: Isi Lahan Kosong
Seorang anggota DPRD Sumut yang enggan disebutkan namanya menyebut wacana ini bukan konversi, melainkan "penanaman di lahan kosong". "Bukan konversi kebun teh, tapi istilahnya isi lahan kosong dengan sawit," ujarnya.
Bahasa politik yang manis itu, menurut sejumlah pengamat, hanyalah pergantian istilah. Hakikatnya tetap sama: sawit menggantikan teh, ibarat orang yang berganti baju tanpa mengubah siapa dirinya.
Tekanan Ekonomi Global
Latar belakangnya jelas: krisis ekonomi global, kebutuhan investasi besar, serta harga pasar sawit yang lebih menggiurkan dibanding teh. Logika komoditas ini mirip dengan masa gula kolonial, ketika UU liberal dan konsesi tanah 75 tahun memuluskan jalan bagi para planters Belanda menguasai ribuan hektare lahan.
Kini, investor sawit mencoba mengulang pola serupa lewat rezim HGU. Bedanya, jika dulu gula menjadi primadona, kini sawit dipromosikan sebagai penyelamat ekonomi.
Suara Rakyat vs Kekuasaan
Di Sidamanik, warga mulai mengorganisir diri lewat forum advokasi sipil. Mereka menolak konversi, menuntut transparansi HGU, dan mendesak agar perluasan sawit dibatasi hanya pada lahan eksisting. Satu dari delapan anggota DPRD Sumut dapil 10 secara terbuka mendukung penolakan ini.
"Ini bukan hanya kebijakan teknis. Ini soal menjaga memori kolektif dan identitas masyarakat, sekaligus mencegah kerusakan lingkungan," tegasnya dalam kunjungan kerja beberapa waktu lalu.
Risiko Sosial dan Ekologi
Kebun teh bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari ekosistem dan identitas budaya Sidamanik. Protes warga bahkan mengaitkan banjir bandang yang melanda beberapa desa dengan perubahan fungsi lahan di kawasan hulu.
Teh di lereng tinggi berfungsi sebagai resapan air alami. Jika digantikan sawit, risiko longsor, banjir, dan kekeringan makin besar. "Sejarah gula di Jawa sudah mengajarkan: kejayaan manis komoditas bisa runtuh seketika ketika ekonomi goyah dan ekologi rusak," ujar seorang aktivis agraria.
Pertaruhan Politik Komoditas
Sidamanik kini berdiri di persimpangan sejarah. Apakah kebun teh akan tetap menjadi saksi warisan kolonial yang dipertahankan, atau berubah menjadi hamparan sawit demi keuntungan jangka pendek?
Seperti era planters Belanda yang memanfaatkan UU Agraria 1870 untuk meraup untung dari gula, kini investor modern mencoba mengulang dengan sawit. Hanya wajah dan komoditasnya yang berubah, pola politik tanah tetap sama.
Keputusan ada di tangan negara, DPRD, dan Kementerian BUMN. Apakah mereka akan berpihak pada rakyat dan lingkungan, atau tunduk pada logika pasar global?(Erni Tanjung)
POSMETRO MEDANPelantikan pengurus Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Sumatera Utara, yang dilaksanakan dalam acara Ap
Sumut 10 menit lalu
POSMETRO MEDAN Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara (MPW PP Sumut) mengawali rangkaian Apel Kehormatan dan Malam Renung
Medan 12 menit lalu
Posmetro Medan , Binjai Setelah selesai pembahasan yang alot akhirnya Pemerintah Kota Binjai bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD
Sumut 27 menit lalu
25 Tahun Posmetro Medan, Dari &ldquoBayi Ajaib&rdquo hingga Bertahan di Era Digital.
Medan 7 jam lalu
POSMETRO MEDAN Ketua Pengadilan Negeri (PN) Medan Kelas IA Khusus, Mardison, SH, melantik dua Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial (
Medan 13 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Jakarta Kabupaten Deli Serdang meraih Terbaik II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tingkat nasional Tahun 2026 katego
Sumut 17 jam lalu
POSMETRO MEDANLebih sepekan, 3 jurnalis yang sudah samasama di ambang sore, bersama seorang anak muda tangguh, melakukan perjalanan kelilin
Editorial 17 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Asahan Gelombang aksi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Reformasi (GEMPPAR) Asahan mengguncang sejumlah kantor pemerin
Peristiwa 17 jam lalu
Transportasi danau menjadi bagian penting bagi masyarakat sekaligus wisatawan yang datang ke Samosir.
Sumut 19 jam lalu
Bupati Humbahas Menyerahkan SK Perpanjangan PPPK Paruh Waktu
Sumut 20 jam lalu