Sabtu, 07 Maret 2026

Perang Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak 38 Persen dalam Sepekan

Administrator - Sabtu, 07 Maret 2026 13:49 WIB
Perang Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak 38 Persen dalam Sepekan
Istimewa
Kapal-kapal tanker pengangkut minyak tertahan di Selat Hormuz.

POSMETRO MEDAN,Jakarta -- Harga minyak dunia melonjak tajam dalam sepekan terakhir seiring memanasnya perang Iran yang mengganggu jalur pengiriman energi global di Selat Hormuz.

Harga minyak Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan mingguan terbesar setidaknya sejak 1985 pada Jumat (7/3/2026). Lonjakan ini terjadi karena konflik yang telah berlangsung hampir sepekan membuat Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, praktis tertutup bagi lalu lintas kapal.

Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak lebih dari 38 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelum konflik pecah. Harganya sempat menembus 92 dollar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent sebagai acuan harga global naik sekitar 30 persen hingga diperdagangkan di atas 94 dollar AS per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar Brent sejak April 2020. Kedua acuan minyak tersebut kini berada pada level harga yang terakhir terlihat pada April 2024 untuk Brent dan setidaknya sejak Oktober 2023 untuk WTI.

Kenaikan harga minyak ini dipicu salah satu gangguan pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Para analis menilai harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut.

"Tanpa adanya kesepakatan dan penghentian cepat aktivitas militer, pasar minyak mentah bisa mulai mengalami gangguan besar dalam hitungan hari, bukan minggu atau bulan," ujar analis strategi energi global Macquarie, Vikas Dwivedi, dikutip dari Yahoo Finance.

Pengiriman minyak terganggu Sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang dikirim melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz. Namun, jalur tersebut kini praktis berhenti beroperasi.

Data Vortexa menunjukkan sekitar 16 juta barel minyak saat ini tertahan di kawasan Teluk Persia karena kapal tanker tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju pembeli.

Kondisi ini memaksa produsen minyak mengurangi produksi karena tidak tersedia jalur pengiriman. Irak pada Selasa lalu mengumumkan pemangkasan produksi sebesar 1,5 juta barel per hari.

Laporan Wall Street Journal juga menyebut Kuwait kemungkinan akan mengambil langkah serupa. Analis JPMorgan Chase memperkirakan jika Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui, pemangkasan produksi bisa meningkat menjadi 3,3 juta barel per hari pada hari ke-8 konflik, 3,8 juta barel per hari pada hari ke-15, dan 4,7 juta barel per hari pada hari ke-18.

Dalam 36 jam pertama konflik, serangan Iran menyasar berbagai wilayah di Timur Tengah dengan target utama infrastruktur militer dan sipil. Namun dalam beberapa hari terakhir, sasaran mulai bergeser ke fasilitas energi penting yang berpotensi semakin mengganggu rantai pasok minyak global.

Sejak Selasa, sejumlah fasilitas energi dilaporkan terdampak. Kilang Bapco Energies di Bahrain dilaporkan diserang. Sementara itu, kilang Ras Tanura di Arab Saudi menghentikan operasi, dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar menyatakan force majeure.

Selain itu, beberapa kapal tanker di Teluk Persia juga dilaporkan terkena serangan rudal dan drone. Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, meski secara formal menyatakan jalur tersebut masih "terbuka".

"Pasar saat ini sangat volatil, dan reaksi para trader cukup bisa dipahami melihat eskalasi konflik yang terjadi," ujar kepala riset Timur Tengah dan Afrika Utara Rystad Energy, Aditya Saraswat.

Situasi tersebut membuat pasar menghadapi potensi kekurangan pasokan minyak yang signifikan. Beberapa negara, termasuk China, dilaporkan mulai menimbun cadangan minyak untuk mengantisipasi gangguan pasokan.

Akibatnya, harga kontrak minyak untuk pengiriman jangka pendek melonjak tajam di pasar perdagangan. Meski demikian, tidak semua analis di Wall Street memperkirakan harga minyak akan langsung menembus 100 dollar AS per barel.

Goldman Sachs, misalnya, mematok proyeksi harga minyak pada kuartal II 2026 di sekitar 76 dollar AS per barel. Namun bank investasi tersebut mengakui harga kemungkinan tetap bertahan di kisaran 80 dollar AS sepanjang Maret.

Kepala riset minyak Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan risiko kenaikan harga masih terbuka lebar. "Risiko terhadap proyeksi harga minyak kami saat ini cenderung lebih besar ke arah kenaikan," ujarnya.

Para analis menilai faktor paling menentukan adalah berapa lama Selat Hormuz tetap tertutup. Dwivedi menilai pasar saat ini masih belum sepenuhnya memperhitungkan potensi kehilangan pasokan minyak akibat penutupan jalur tersebut. Menurut dia, jika Selat Hormuz tertutup selama beberapa pekan, dampaknya bisa memicu efek domino di pasar energi global.

"Dalam analisis kami, penutupan Hormuz selama beberapa pekan bisa mendorong harga minyak mentah hingga 150 dollar AS per barel atau bahkan lebih tinggi," kata Dwivedi.

Dengan kenaikan harga minyak global, negara-negara termasuk Indonesia akan terkena dampak karena terpaksa menaikkan harga bahan bakarnya.

(wan/kompas/bbs)

Editor
: Indrawan
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru