Jumat, 14 Agustus 2026

'Gonggongan' Bertuan Publik: Bedah Redaksi Debut POSMETRO MEDAN

Ditulis Faisal Matondang*
Faisal Matondang - Jumat, 14 Agustus 2026 16:32 WIB
'Gonggongan' Bertuan Publik: Bedah Redaksi Debut POSMETRO MEDAN
IST
Faisal Matondang

POSMETRO MEDAN,Mengungkap realitas tak kasat mata di balik sesuatu yang biasa-biasa saja hingga menjadi luar biasa.

Demikian misi kerja kolaborasi jurnalis dan seniman. Jurnalisme memang setara kiprah seni merekam zaman. Tapi minus itu, ia adalah alat peradaban masyarakat dengan kwartet fungsi.

Di antaranya, untuk 'menggonggongi' sinyal bahaya.

Baca Juga:

Dalam kaidah Pers, menggonggong dimaknai sebagai sikap kritis. Lazimnya anjing penjaga yang galak, jurnalisme idem dito. Ia 'menggonggongi' temuan penyimpangan. Pun ketidakadilan yang merugikan publik.

Dan bersama fungsi menguatkan nalar publik, kehadiran jurnalisme sudah seperti 'oksigen' dalam hidup bernegara.

Baca Juga:

Tanpa jurnalisme yang 'menggonggong' alias kritis, niscaya dunia penuh malapetaka. Problem besar atau bahkan krisis kehidupan akan berlangsung secara langgeng.

Karena peran watchdog itulah, SDM jurnalis yang menyebarkan berita bukan hasil 'copy paste' isi rilis tanpa data pembanding menjadi prasyarat tegaknya sistem demokrasi.

Tugas kaum 'mata - telinga publik' sejatinya membongkar nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik peristiwa kasat mata. Bukan semata mencatat kejadian secara mata telanjang.

Itulah hakikat jurnalis tak pernah kehilangan fungsi kontrol. Lalu bagaimana seniman?

Seniman adalah makhluk yang ditakdirkan memiliki kemampuan ekspresi tak biasa. Pun daya imajinatifnya.

Mereka tipikal umat yang merawat kebebasan berekspresi.

Kisah buah apel jatuh dari pohon ke tanah, misalnya. Bagi banyak orang, peristiwa itu adalah bukti gravitasi. Atau, buntut aksi jolok maling atau si pemilik pohon. Angle seniman tidak begitu.

Apel merah mengkilap itu mengantar memori pada sepotong bibir yang sehat merona. Bibir gadis dari keluarga pemilik pohon apel itu.

Siapa nyana buah segar yang jatuh diasosiasikan dengan kelembutan kecupan seorang gadis.

Itulah cukilan efek jurnalisme berolah rasa seni menghasilkan reportase peristiwa biasa menjadi tampak luar biasa. Pakar komunikasi menyebut genre ini sebagai jurnalisme sastra.

Formula semacam itulah yang diadopsi POSMETRO MEDAN era awal. Menolak berita rilis yang hanya menguntungkan kubu pembuat rilis membuat redaksinya menantang status quo produk Pers Sumatera Utara masa itu.

Dengan arah pemberitaan 'menerangi' sisi gelap kehidupan sosial, POSMETRO MEDAN tampil 'di luar kotak'. Menabrak langgam banyak wartawan, kehadirannya konsisten 'menggonggong' pelaku kriminalitas. Juga praktik penyimpangan hukum.

Tuan media ini adalah publik 'akar rumput'. Itu yang membuat POSMETRO MEDAN terbit pada edisi Minggu 16 Desember 2001 meski itu 1 Syawal 1422 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri.

Lantas, apa dampak formula itu? Seperti yang sudah Anda ketahui.

Tiras media yang lahir dari rahim jurnalisme 'sex and crime' ini melesat bak meteor. Nyaris menembus 100 ribu eksemplar. Terbesar dalam sejarah oplah koran seantero Sumatera.

Itu pula yang membuat gaji kru redaksinya terbesar dalam kancah media massa di Medan masa itu. Salary gede itu terjadi 13 kali per tahun. Itu belum dengan provit sharing.

Padahal, di era debutnya, gaji kru koran ini relatif hanya cukup untuk biaya transport plus beli rokok. Itu pun didapat saban tanggal 32 alias waktu yang tak menentu.

Begitulah. Saking melesat, inilah sejarah bisnis surat kabar lokal yang hanya butuh sembilan bulan untuk balmod alias balik modal.

Fakta di tahun-tahun berlalu itu mendapuk

anak usaha Jawa Pos Group ini menjadi harian nomor satu paling berpengaruh di Sumatera Utara.

Pun, media massa dengan brand fenomenal. Demikian award dari AC Nielsen.

Penghargaan itu didapat karena sang raksasa riset global menemukan pahala POSMETRO MEDAN sebagai media yang menumbuhkan minat baca masyarakat.

Tapi fakta riset lembaga bermarkas di New York, Amerika Serikat, itu kontras dengan temuan

hari-hari ini. Minat baca turun drastis. Nge-drop seiring kemunculan lebih 50 ribu portal di Tanah Air yang melabeli diri sebagai media daring.

Riset terbaru dari University of Florida (UF) menemukan hobi membaca turun 40 persen. Temuan senada juga datang dari

hasil study University College London (UCL).

Lantas apa yang membuat warga Sumatera Utara pernah kecanduan massal membaca POSMETRO MEDAN ?

"Berani, interaktif, dan unik. Itu tiga karakter surat kabar. Unik, karakter itu yang menonjol dari produk POSMETRO (MEDAN). Dan ciri itu sulit ditonjolkan oleh harian lain (terbitan Medan)," tutur H. Lokot Ray (alm.), sebelum berpulang di tahun berlalu.

Semasa hidup, Lokot Ray dikenal sebagai sosok wartawan 'tiga zaman' dan pengajar jurnalisme di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP), Medan.

"Kalau soal berani, banyak koran yang kritis (dalam pemberitaan). Semua (media) juga interaktif terhadap pembacanya," tandasnya soal sejarah jaya POSMETRO MEDAN yang debut redaksionalnya tengah kita bahas.

Seperti apa praktik jurnalisme era booming media yang mulai 1 Oktober (2026) mendatang memasuki usia 'perak' ini ?

Pemilihan berita bertema dekat dengan kehidupan rakyat banyak disaji lewat bahasa yang mudah dimengerti.

Itulah 'password' POSMETRO MEDAN sukses mendongkrak keminiman minat baca warga Sumatera Utara, dua dekade lalu. Persisnya begini.

Fakta dan data valid hasil liputan diolah dengan gaya saji ala fiksi. Itulah resep guna 'menghidupkan' berita. Menjadi seru karena mengandung emosi. Dan, itu hanya didapat lewat penggalian cerita di balik berita.

Di fase inilah redaksi kemudian memainkan jurus 'menggebrak dan merawat'. Artinya, berita yang seru digebrak sebagai headline, dan temuan cerita penuh emosi di balik berita dirawat dalam sajian serial.

Digelar konsisten, jurus marketing itulah yang membuat pembaca kian bertambah dan terikat dengan produk POSMETRO MEDAN.

Lantas, bagaimana berita hadir menjadi seru dan penuh emosi?

Semua berkat pendalaman rumus berita yang kolot itu, 5W + 1H. Di sinilah penjelasan unsur 'Who' dan 'What' hadir tak sekadarnya. Unsur 'apa dan siapa' tak semata menjelaskan identitas tokoh di balik peristiwa.

Dalam jurnalisme modern,

pendalaman dua unsur itu menghasilkan informasi tentang karakter.

Misal, kisah watak khas sebuah komunitas besar 'meledak' saat wilayahnya dipimpin sosok dari luar dan minim pengalaman birokrasi mengeluarkan larangan penjualan daging babi. Anda tentu tahu peristiwa itu.

Begitu pula hasil penjabaran 'Where' dan 'When'. Dua unsur itu menekankan soal modus beriring kronologi peristiwa.

Pun 'Why'. Unsur ini menjadi jawaban terang soal motif peristiwa yang diliput. Dan, 'How' adalah plot cerita yang dirangkai seperti hebatnya karya fiksi film atau novel.

Nah, gaya baru penggalian '5W 1H' itu dipadu dalam semangat menjiwai empat sumber berita dalam lima langkah kerja wartawan. Apa itu?

Anda yang bekerja untuk media jenis apa pun dan berkarya di belahan dunia mana pun, wajib tahu soal itu. (*)

*Veteran POSMETRO MEDAN

Editor
: Faliruddin Lubis
Tags
beritaTerkait
Sambut HUT Perak, Posmetro Medan Bikin Rakerda
Diduga Lecehkan Profesi Jurnalis di Facebook, Seorang Warga Dilaporkan ke Polres Binjai
Shanaz Khairuz Putri Lauzia, Dari Dunia Jurnalistik Menuju Politik dan Bisnis
Jude Bellingham Banjir Pujian usai Jawab Pertanyaan Jurnalis Disabilitas Asal Venezuela
Rico Waas : Kota tak Bisa Hanya Jadi Konsumen, Saat Bangun Ketahanan Pangan
Seniman Teater Hafiz Taadi Gelar Panggung di Aliran Sungai Deli
komentar
beritaTerbaru