Selasa, 02 Juni 2026

Dosen Unimed Manfaatkan Situs Kuno Abad 8 sebagai Seni Instalasi

Faliruddin Lubis - Senin, 01 Juni 2026 15:53 WIB
Dosen Unimed Manfaatkan Situs Kuno Abad 8 sebagai Seni Instalasi
istimewa
Lokasi penemuan di Wilayah Situs Bongal Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara.

POSMETRO MEDAN, Medan- Onggal Sihite memanfaat lobang galian arkeologi sebagai tempat pembuatan dan pameran seni instalasi.

Di dalam lobang galian yang mengandung air yg dipengaruhi pasang surut air laut ini terdapat 40 tonggak kayu nibung. Diduga situs ini merupakan bekas pemukiman kuno di abad 8-9 Masehi.

Lokasi penemuan di Wilayah Situs Bongal Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara.

Baca Juga:

Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Medan merupakan keseharian dari pekarya ini. Pembuatan dan pameran ini didanai oleh Dana Indonesiana 2026 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia LPDP.

Baca Juga:

"Karya ini sebagai ruang edukasi tentang seni rupa. Pada penonton merupakan siswa SMA Pinang Sori 1 dan perguruan tinggi di sekitaran Sibolga dan Pandan. Mereka antusias, banyak sekali pertanyaan yang muncul ketika menikmati suasana di sekitar situs terkait dengan seni instalasi," ujar Onggal Sihite, Senin (1/6/2026) melalui telepon.

Tapanuli Tengah, Sumatera Utara yang selesai pada tanggal 30 Mei 2026 dan dipamerkan pada tanggal 31 Mei 2026.

Onggal menjelaskan, karya yang dipamerkan merupakan rangkaian unsur fragmen keramik, tembikar dan kaca dari Tiongkok, India, Arab dan Persia selama dua hari yakni, 30-31 Maret 2026.

"Secara arkeologi fragmen ini tak bermakna secara arkeologi karena bentuknya yang tak lagi utuh. Sehingga saya berani menggunakan fragmen ini menjadi unsur karya seni instalasi. Konstruksi dari seni instalasi ini menggunakan kayu lokal yang biasa digunakan penduduk lokal untuk membangun jermal di tengah laut. Untuk mengikatkan antara satu kayu dengan kayu yang lain tidak menggunakan paku, melainkan dengan menggunakan tali nilon bekas yang dipilin menggunakan kayu bulat," katanya.

"Konstruksi rangka kayu ini dihubungkan dengan jaring tali yang terbuat dari tali sabut, tali ijuk dan tali nilon. Tali nilon berfungsi menyatu dengan kerangka kayu yang merupakan bagian dari konstruksi kayu tersebut. Sedangkan tali sabut kelapa dan tali ijuk berfungsi sebagai artistik untuk menempelkan fragmen-fragmen menjadi kesatuan sebagi bahasa rupa," ungkapnya.

Menurutnya, fragmen-fragmen keramik, tembikar dan kaca dijadikan sebagai simbol yang mewakili peradaban-peradaban besar. Sedangkan tali sabut kelapa dan tali ijuk yang membentuk jaringan dijadikan sebagai simbol interaksi antar peradaban besar yang terjadi di Bongal pada masa lalu.

Pameran ini bertujuan sebagai edukasi pada masyarakat yang jauh dari pusat-pusat kegiatan seni rupa untuk mengenalkan seni instalasi dan secara otomatis menjadi teknologi memori yang dilakukan oleh manusia masa kini terhadap Bongal kontemporer yang memendam jejak-jejak peradaban masa lalu.(DEN)

Tags
beritaTerkait
Babak 8 Besar Piala Kapolda Sumut, PS Polres Tanjungbalai Tantang PS Polres Dairi
Prihatin Rendahnya Gaji Dosen Rp 3 Juta per Bulan, DPR Minta MK Kabulkan Hal Ini
Rektor UMSU Serahkan Insentif Publikasi Dosen Sebesar Rp2,8 M
6.023 Peserta Lolos Masuk Unimed
Pascabanjir Sumut: 50 Mahasiswa Unimed Tersenyum Lega Usai Dapat Bantuan dari BPKH dan Rumah Zakat
Tekankan Peran Generasi Adaptif Menuju Indonesia Emas 2045
komentar
beritaTerbaru