Malam pertama mereka bermalam di Bireuen. Esok paginya, perjalanan dilanjutkan ke dataran tinggi Bener Meriah. Jalanan makin sempit, udara makin dingin, dan jejak longsor makin sering terlihat.
Tanah merah terbuka lebar di lereng bukit, seperti kulit bumi yang terkelupas.
Baca Juga:
Di beberapa titik, kendaraan harus antri melewati jalan yang baru ditimbun sementara.
Alat berat masih bekerja, suara mesin menggeram seperti nafas berat bumi yang kelelahan.
Baca Juga:
Dusun yang Hampir Hilang dari Peta
Tujuan mereka adalah Dusun Uning Jaya, wilayah paling parah terdampak di Desa Meriah Jaya.
Dusun ini sempat terisolasi hampir sebulan. Satu-satunya jembatan penghubung ambruk dihantam batu-batu besar dan kayu-kayu gelondongan saat banjir bandang menerjang akhir 2025 lalu.
Ketika rombongan tiba, sebuah jembatan Bailey masih dibangun oleh prajurit TNI. Untuk mencapai lokasi kegiatan, mereka harus menyeberangi jembatan kayu darurat, lalu berjalan kaki hampir dua kilometer menyusuri jalan tanah, menurun dan menanjak di tepi sungai yang dulu mengamuk itu.
Bantuan sembako dan peralatan medis tak bisa dibawa mobil. Semuanya dilangsir perlahan menggunakan sepeda motor.
Di ujung jalan itu, lebih dari 200 kepala keluarga sudah menunggu.
Tags
beritaTerkait
komentar