Bukan karena jumlah bantuannya besar. Tapi karena setelah sekian lama, ada orang datang dari jauh menyebut mereka sebagai saudara.
Pidato yang Turun ke Dada
Baca Juga:
Saat tiba giliran berbicara, Yahdi Khoir berdiri tanpa podium.
Ia tak berpidato panjang. Ia hanya berbicara tentang ketabahan. Tentang bagaimana rumah bisa hanyut, sawah bisa rusak, tapi harapan tak boleh ikut tenggelam. Tentang pentingnya saling menguatkan, dan tentang kewajiban negara untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan warganya.
Baca Juga:
Di sampingnya berdiri Reje (Kepada Dusun) Meriah Jaya, Reje anggota DPRK Bener Meriah Iyan Mukhlis dan Ketua DPD PAN Bener Meriah, Rudi Faisal, Ketua BM PAN Batubara Ketua Puan Batubara Seniati dan para relawan. Tak ada jarak antara jabatan dan masyarakat. Hanya manusia yang berbicara kepada manusia lain.
Beberapa warga menunduk. Beberapa mengusap mata. Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi di tempat yang pernah diterjang arus setinggi atap rumah, kalimat penguatan bisa terasa seperti pelampung.
Balasan dari Tanah yang Terluka
Usai kegiatan, warga tak membiarkan rombongan pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa durian, langsat, dan kopi hasil bumi terbaik yang masih bisa mereka kumpulkan. Itulah cara mereka berkata terima kasih.
Dari tanah yang pernah direndam air bah, mereka tetap memberi.
Pulang dengan Hati yang Tidak Lagi Sama
Tags
beritaTerkait
komentar