Kamis, 14 Mei 2026

Di Tanah Luka Aceh Tengah, Yahdi Khoir Menyapa Mereka yang Hampir Putus Asa

Evi Tanjung - Senin, 02 Februari 2026 16:16 WIB
Di Tanah Luka Aceh Tengah, Yahdi Khoir Menyapa Mereka yang Hampir Putus Asa
ist
Ketua Fraksi PAN DPRD Sumatera Utara Yahdi Khoir Harahap

POSMETROMEDAN, Medan -Pagi itu, jalan belum benar-benar jalan. Ia lebih mirip ingatan yang dipaksa disambung kembali retak, berlumpur, dan berdebu. Mobil yang membawa rombongan kecil dari Sumatera Utara bergerak pelan, seolah takut melukai bumi yang belum sembuh. Di kanan kiri, rumah-rumah berdiri seperti orang yang baru selamat dari karam, miring, kusam, dengan bekas garis air setinggi di pohon masih jelas membekas di pohon itu.

Di kursi depan, Yahdi Khoir Harahap, Ketua Fraksi PAN DPRD Sumatera Utara (Sumut), lebih banyak diam. Mata tak lepas dari jendela, menyusuri setiap puing, setiap jembatan darurat yang tak bisa dilalui, setiap jejak lumpur yang mengering seperti luka yang belum sempat diberi salep.

Ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan menembus kesedihan orang-orang yang tak pernah ia temui sebelumnya, namun nasibnya kini ikut ia pikul.

Baca Juga:

Jalan Panjang Menuju Luka yang Sunyi

Perjalanan menuju Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, Aceh itu ditempuh pada 25-27 Januari 2026.

Baca Juga:

Rombongan berangkat atas perintah dari pusat agar turun ke lokasi dengan fana pribadi perjalanan mulai dari Indrapura, Batubara, sejak pagi buta, menyusuri tol, jalan lintas, hingga jalur pegunungan yang berliku.

Memasuki wilayah Aceh Tamiang, pemandangan berubah menjadi kesaksian bisu. Lumpur yang disingkirkan menumpuk di tepi jalan seperti duka yang disapu ke pinggir hati.

Ruko-ruko masih kotor, sekolah dan masjid tampak kusam, dan di beberapa sudut kota, ibu-ibu serta anak-anak berdiri menunggu bantuan datang.

Mereka tak meminta dengan suara cukup dengan tatapan.

Rombongan berhenti, menyelipkan uang ke kotak-kotak kardus itu. Tak banyak, tapi cukup untuk berkata, "Kami melihat kalian."

Malam pertama mereka bermalam di Bireuen. Esok paginya, perjalanan dilanjutkan ke dataran tinggi Bener Meriah. Jalanan makin sempit, udara makin dingin, dan jejak longsor makin sering terlihat.

Tanah merah terbuka lebar di lereng bukit, seperti kulit bumi yang terkelupas.

Di beberapa titik, kendaraan harus antri melewati jalan yang baru ditimbun sementara.

Alat berat masih bekerja, suara mesin menggeram seperti nafas berat bumi yang kelelahan.

Dusun yang Hampir Hilang dari Peta

Tujuan mereka adalah Dusun Uning Jaya, wilayah paling parah terdampak di Desa Meriah Jaya.

Dusun ini sempat terisolasi hampir sebulan. Satu-satunya jembatan penghubung ambruk dihantam batu-batu besar dan kayu-kayu gelondongan saat banjir bandang menerjang akhir 2025 lalu.

Ketika rombongan tiba, sebuah jembatan Bailey masih dibangun oleh prajurit TNI. Untuk mencapai lokasi kegiatan, mereka harus menyeberangi jembatan kayu darurat, lalu berjalan kaki hampir dua kilometer menyusuri jalan tanah, menurun dan menanjak di tepi sungai yang dulu mengamuk itu.

Bantuan sembako dan peralatan medis tak bisa dibawa mobil. Semuanya dilangsir perlahan menggunakan sepeda motor.

Di ujung jalan itu, lebih dari 200 kepala keluarga sudah menunggu.

Mereka berdiri rapi, sebagian membawa anak kecil, sebagian lagi memegang payung usang untuk menahan terik. Wajah-wajah mereka bukan wajah orang yang kalah melainkan wajah orang yang terlalu lama menahan lelah.

Ketika Bantuan Menjadi Pelukan

Kegiatan dimulai dengan pengobatan gratis di posyandu dusun. Satu per satu warga diperiksa. Keluhan mereka nyaris serupa, gatal-gatal karena air kotor, batuk tak sembuh-sembuh, tekanan darah naik karena stres dan kelelahan. Obat dibagikan cuma-cuma. Bagi mereka, itu bukan sekadar pil itu adalah rasa diperhatikan.

Di Mesjid kecil tak jauh dari sana, paket sembako disusun, beras, minyak goreng, gula, mi instan, ikan asin, hingga mukena.

Saat nama mereka dipanggil, beberapa ibu menutup mulutnya, menahan tangis yang tak ingin jatuh di depan banyak orang.Namun air mata tetap jatuh juga.

Bukan karena jumlah bantuannya besar. Tapi karena setelah sekian lama, ada orang datang dari jauh menyebut mereka sebagai saudara.

Pidato yang Turun ke Dada

Saat tiba giliran berbicara, Yahdi Khoir berdiri tanpa podium.

Ia tak berpidato panjang. Ia hanya berbicara tentang ketabahan. Tentang bagaimana rumah bisa hanyut, sawah bisa rusak, tapi harapan tak boleh ikut tenggelam. Tentang pentingnya saling menguatkan, dan tentang kewajiban negara untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan warganya.

Di sampingnya berdiri Reje (Kepada Dusun) Meriah Jaya, Reje anggota DPRK Bener Meriah Iyan Mukhlis dan Ketua DPD PAN Bener Meriah, Rudi Faisal, Ketua BM PAN Batubara Ketua Puan Batubara Seniati dan para relawan. Tak ada jarak antara jabatan dan masyarakat. Hanya manusia yang berbicara kepada manusia lain.

Beberapa warga menunduk. Beberapa mengusap mata. Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi di tempat yang pernah diterjang arus setinggi atap rumah, kalimat penguatan bisa terasa seperti pelampung.

Balasan dari Tanah yang Terluka

Usai kegiatan, warga tak membiarkan rombongan pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa durian, langsat, dan kopi hasil bumi terbaik yang masih bisa mereka kumpulkan. Itulah cara mereka berkata terima kasih.

Dari tanah yang pernah direndam air bah, mereka tetap memberi.

Pulang dengan Hati yang Tidak Lagi Sama

Perjalanan pulang melewati jalur pegunungan yang ekstrem. Tikungan tajam, jurang menganga, bekas longsor di mana-mana. Di satu titik, tampak perkampungan yang sebagian rumahnya hancur dan ditinggalkan penghuninya.

Di dalam mobil, suasana lebih banyak sunyi.

Barangkali setiap orang di rombongan membawa pulang satu hal yang tak terlihat, kesadaran bahwa menjadi wakil rakyat bukan hanya soal bicara di ruang sidang, tapi soal hadir di ruang luka.

Di Meriah Jaya, Yahdi Khoir tak sekadar menyerahkan bantuan. Ia menyerahkan waktu, tenaga, dan hatinya untuk berjalan sejauh itu demi memastikan bahwa di sudut negeri yang nyaris sunyi dari sorotan, masih ada yang datang mengetuk pintu dan berkata, "Kami tidak lupa kalian'. (erni)

Tags
beritaTerkait
Dari Batubara ke Batangtoru, Langkah Yahdi Khoir di Antara Luka dan Harapan
Anggota DPRD Sumut, Yahdi Khoir Harahap: Waspadai ‘Penumpang Gelap’ di Balik Program Perhutanan Sosial
Anggota DPRD Sumut Yahdi Khoir Harahap Desak BUMD Segera Bangkit untuk Dongkrak PAD
komentar
beritaTerbaru